DepokSpotLight – Dibalik keindahan Desa Bayan, Lombok Utara, terdapat kisah kesehatan masyarakat yang jarang terdengar.
Produk kental manis, yang akrab di meja makan Indonesia, masih sering disalahpahami sebagai susu oleh sebagian besar masyarakat desa.
Bagi banyak orang tua, kental manis menjadi pilihan utama untuk anak-anak mereka.
Praktis, terjangkau, dan rasanya manis membuat produk ini digemari. Namun, di balik itu tersimpan bahaya kesehatan yang serius.
Bidan Herlin, tenaga kesehatan desa yang sudah lebih dari 10 tahun mendampingi masyarakat Bayan, mengungkapkan bahwa kebiasaan ini muncul karena minimnya edukasi.
“Masyarakat tidak tahu, mereka berikan karena anak suka,” katanya, Senin (8/9/2025).
Sejak lama, iklan-iklan di televisi menggambarkan kental manis sebagai pengganti susu.
Hal ini membuat banyak orang tua percaya bahwa produk tersebut baik untuk tumbuh kembang anak.
Padahal, sejak 2018 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menegaskan bahwa kental manis bukanlah susu, melainkan gula dengan sedikit tambahan susu.
Herlin menyebut, pola konsumsi ini menyebabkan anak lebih memilih minuman manis ketimbang makanan pokok.
“Ada yang sudah tidak mau makan nasi karena terbiasa diberi minuman manis lebih dulu,” jelasnya.
Kebiasaan mengonsumsi kental manis secara rutin dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari obesitas, gigi berlubang, hingga kecanduan gula.
Sayangnya, banyak orang tua tidak menyadari dampak ini karena masih menganggap kental manis setara dengan susu sapi.
Pihak kesehatan memang rutin melakukan penyuluhan melalui posyandu dan kelas balita, namun edukasi khusus soal kental manis masih sangat minim.
“Secara khusus yang tentang kental manis belum ada edukasi,” tegas Herlin.
Selain minimnya edukasi, faktor ekonomi juga berperan besar.
Harga kental manis yang murah dan mudah dijangkau membuatnya lebih dipilih dibanding susu murni atau susu bubuk.
Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, pilihan ini terasa realistis.
Namun tanpa informasi yang tepat, keputusan ini justru menjadi bumerang yang merugikan kesehatan anak di masa depan.
Kasus di Desa Bayan menunjukkan bahwa masalah gizi bukan hanya soal ketersediaan makanan, tetapi juga informasi yang diterima masyarakat.
Jika orang tua paham bahwa kental manis bukan susu, mereka akan lebih bijak dalam memilih asupan anak.
Dengan edukasi yang konsisten, generasi muda bisa tumbuh lebih sehat, kuat, dan cerdas.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang satu produk, melainkan tentang masa depan bangsa.
Anak-anak Indonesia berhak mendapatkan gizi yang benar, bukan sekadar rasa manis yang menipu.




















