DepokSpotLight – Suasana pada Minggu (22/2/2026) dini hari di kawasan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok, terasa berbeda saat sekelompok pemuda membangunkan warga untuk sahur dengan tabuhan alat musik tradisional.
Mereka berkeliling kampung memainkan gong, kempul, dan kecrek sebagai penanda waktu makan sahur selama Ramadan.
Rombongan menyusuri gang-gang permukiman warga hingga mencapai Tugu Gong Si Bolong, menciptakan suasana yang khas dan bernuansa budaya.
Kegiatan ini digagas oleh Faiz Fadilah bersama tiga rekannya, yakni Fatih, Naswan, dan Abi.
Mereka memulai perjalanan dari lingkungan tempat tinggal dengan membawa alat musik sederhana yang dirangkai seadanya.
Tabuhan ritmis yang dihasilkan menjadi penanda waktu sahur bagi warga sekitar.
Selain itu, bunyi gong dan kempul menghadirkan warna berbeda di tengah tradisi membangunkan sahur yang umumnya menggunakan pengeras suara.
Di tengah maraknya fenomena membangunkan sahur yang kerap menimbulkan kebisingan, kelompok pemuda ini memilih pendekatan berbasis kreativitas dan budaya lokal.
Mereka menilai tradisi sahur tetap dapat dilakukan tanpa mengganggu ketertiban umum.
“Daripada bangunin sahur tapi menimbulkan kebisingan buat warga, lebih baik kita isi dengan kreativitas dan budaya,” kata Faiz.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut juga bertujuan menghidupkan kembali alat musik tradisional yang semakin jarang dimainkan generasi muda, terutama di wilayah perkotaan.
Menurut Faiz, musik tradisional memiliki karakter yang lebih ramah didengar serta mampu membangun suasana kebersamaan di tengah masyarakat.
Respons warga pun beragam, namun sebagian besar menyambut positif kegiatan tersebut.
Sejumlah warga terlihat keluar rumah untuk menyaksikan rombongan melintas, sementara lainnya mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam.
Warga menilai kegiatan ini tidak sekadar membangunkan sahur, tetapi juga menghadirkan hiburan sederhana yang sarat nilai budaya.
Faiz dan kawan-kawan berharap kegiatan tersebut dapat terus dilakukan selama Ramadan.
Mereka juga berharap cara kreatif ini bisa menjadi contoh bagi wilayah lain dalam menghidupkan tradisi sahur yang lebih tertib, bermakna, dan berakar pada budaya lokal. (IYD)




















