DepokSpotLight – Universitas Indonesia (UI) memasang target untuk menembus peringkat 100 kampus terbaik dunia bertepatan dengan perayaan Dies Natalis ke-76 yang digelar pada Senin (2/2/2026).
Target tersebut dicanangkan setelah UI berhasil masuk jajaran 200 besar universitas dunia versi QS World University Ranking.
Saat ini, UI berada di peringkat 189 dunia dan menjadi satu-satunya perguruan tinggi Indonesia yang menembus 200 besar global.
Rektor UI Heri Hermansyah mengatakan, pencapaian tersebut sekaligus menjadi pijakan untuk melangkah ke target berikutnya, yakni 100 besar dunia.
“Kita mendengar sendiri bahwa di laporan satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo, beliau menyampaikan apresiasi bahwa untuk pertama kalinya UI menjadi satu-satunya universitas yang berhasil menembus ranking 200 dunia,” kata Heri.
“Setelah breaking 200, langkah berikutnya adalah bagaimana caranya untuk breaking 100 seperti yang telah disampaikan oleh Bapak Presiden,” sambungnya.
Heri mengungkapkan, tantangan utama UI saat ini terletak pada rendahnya skor dampak riset atau innovation impact, khususnya dalam indikator sitasi ilmiah.
Skor sitasi UI masih berada di angka 3,9, jauh di bawah sejumlah universitas di Malaysia yang telah mencapai rentang skor 10 hingga 40.
Untuk bisa menembus 100 universitas terbaik dunia, UI ditargetkan mampu meningkatkan skor sitasi hingga minimal di angka 20.
“Untuk meningkatkan dampak riset inovasi ini, ada beberapa hal yang harus kita lakukan berkaitan dengan SDM,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, UI akan merekrut dosen dengan rekam jejak riset kelas dunia dan hasil penelitian yang memiliki tingkat sitasi tinggi.
Selain itu, kampus juga akan memperkuat fasilitas riset guna mendukung pengembangan topik-topik frontier dan inovasi mutakhir.
“Selanjutnya meningkatkan tunjangan bagi peneliti agar mereka dapat fokus bekerja penuh waktu (full-time) tanpa harus mencari pekerjaan sampingan,” ujarnya.
Heri juga menekankan pentingnya kolaborasi riset antara universitas dengan mitra internasional serta dunia usaha dan industri.
Menurutnya, pola riset di Indonesia masih terlalu tertutup dan kurang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Riset harus didasarkan pada masalah nyata di dunia industri. Perusahaan diharapkan mengalokasikan dana riset ke universitas agar terjadi interaksi antara dosen dan praktisi untuk menciptakan inovasi yang dapat langsung diterapkan,” pungkasnya.




















